Kedisiplinan

July 9, 2008

 

  1. Pentingnya kedisiplinan

Kedisiplinan adalah fungsi operatif keenam dari Management Sumber Daya Manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif Management Sumber Daya Manusia (MSDM) yang terpenting karena semakin baik disiplin karyawan, semakin tinggi pula prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan yang baik, sulit bagi organisasi perusahaan mencapai hasil yang optimal.

Kuranganya kedisiplinan didalam manajemen suatu perusahaan juga dapat mengakibatkan kerugian bahkan jatuhnya perusahaan itu sendiri. Dari sisi karyawan banyak yang melanggar disiplin. Dalam suplai bahan baku misalnya, utamanya pengiriman, yang tidak tepat waktu sehingga berakibat tenaga kerja tidak aktif bekerja juga mengakibatkan ruginya perusahaan.

Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, serta masyarakat pada umumnya. Melalui disiplin akan mencerminkan kekuatan, karena biasanya seseorang yang berhasil dalam karyanya, studynya biasanya adalah mereka yang memiliki disiplin yang tinggi.

Guna mewujudkan tujuan perusahan, maka yang pertama harus segera dibangun dan ditegakkan di perusahaan tersebut adalah kedisiplinan karyawannya. Bukan hanya itu, peraturan dalam perusahaanpun sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi karyawan dalam menciptakan tata tertib yang baik diperusahaan. Dengan tata tertip yang baik, semangat kerja, moral kerja, efisiensi, dan efektifitas kerja karyawan akan meningkat. Hal ini akan mendukung tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Jadi, kedisiplinan merupakan kunci keberhasilan suatu perusahan dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, setiap manager harus selalu berusaha agar para bawahannya mempunyai disiplin yang baik. Seorang manager dikatakan efektif kepemimpinanya, jika para bawahnya berdisiplin baik.

  1. Indikator – indikator Kedisiplinan

Pada dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan suatu organisasi, di antaranya:

 

  1. Teladan pimpinan

  2. Balas jasa

  3. Keadilan

  4. Waskat

  5. Sanksi hukuman

  6. Ketegasan

  7. Hubungan kemanusiaan

  1. Persaingan dan Konflik

Persaingan adalah kegiatan yang berdasarkan atas sikap rasional dan emosinal dalam mencapai prestasi kerja yang baik. Persaingan dimotivasi oleh ambisi untuk memperoleh pengakuan, penghargaan, dan status sosial yang terbaik.

Konflik adalah persaingan yang kurang sehat berdasarkan ambisi dan sikap emosional dalam memperoleh kemenangan. Konflik akan menimbulkan ketegangan, konfrontasi, perkelahian, dan frustasi jika tidak dapat diselesaikan.

Persaingan yang sehat dalam suatu perusahaan akan memotivasi moral kerja, produktivitas kerja, dan kedisiplinan karyawan, persaingan yang sehat ini dalam suatu perusahaan perlu dibina agar dinamika organisasi berkembang kearah yang diinginkan. Dengan persaingan yang sehat, karyawan akan kreatif, dinamis, dan berlomba-lomba mencapai prestasi kerja yang diinginkan, sedangkan persaingan yang kurang sehat dalam suatu perusahaan akan menimbulkan konflik dan harus dicegah sedini mungkin supaya tidak sampai terjadi konflik yang akan merugikan perusahaan.

Hal-hal yang menyebabkan persaingan dan konflik antara lain :

  1. Tujuan

  2. Ego manusia

  3. Kebutuhan

  4. Perbedaan pendapat

  5. Salah paham

  6. Perasaan dirugikan

  7. Perasaan sensi

  1. Kepuasan Kerja, Stress dan Frustasi

, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan Karyawan adalah makhluk sosial yang menjadi kekayaan utama bagi setiap perusahaan. Mereka menjadi perencana, pelaksana, dan pengendali yang selalu berperan aktif dalam mewujudkan tujuan perusahaan. Karyawan menjadi pelaku yang menunjang tercapainya tujuan, mempunyai pikiran, perasaan, dan keinginan yang dapat mempengaruhi sikap-sikapnya terhadap pekerjaannya. Sikap ini akan menetukan prestasi kerja, dedikasi, dan kecintaan terhadap pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Kepuasan kerja (job statifaction) karyawan harus diciptakan sebik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan yang meningkat. Kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinanluar pekerjaan.

Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi factor-faktor berikut:

  1. Balas jasa yang adil dan layak

  2. Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian

  3. Berat – ringannya pekerjaan

  4. Suasana dan lingkungan pekerjaan

  5. Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan

  6. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya

  7. Sikap pekerjaan monoton atau tidak

Stres karyawan timbul akibat kepuasan kerja tidak terwujud dalam pekerjaannya. Stres karyawan perlu sedini mungkin diatasi oleh pimpinan agar hal-hal yang merugikan perusahaan dapat diatasi. Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi. Proses brfikir, dan kondisi sesorang. Orang-orang yang mengalami stres menjadi nervous dan merasakan kekuatiran kronis

Faktor-faktor penyebab stres karyawan, antara lain sebagai berikut:

  1. Beban kerja yang sulit dan belebihan

  2. Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan wajar

  3. Waktu peralatn yang kurang memadai

  4. Konflik antara pribadi dengan pimpinan atau kelompok kerja

  5. Balas jasa yang terlalu rendah

  6. Masalah-masalah keluarga seperti anak, istri, mertua dan lain-lain

Stress karyawan yang tidak terselesaikan dengan baik akan mengakibatkan timbulnya frustasi. Frustasi akan menimbulkan perilaku yang aneh-aneh dari orang tersebut, misalnya marah-marah, membanting telephone, bahkan memukul-mukul kepalanya. Frustasi adalah keadaan emosional, ketegangan pikiran dan prilaku yang tidak terkendali dari seseorang, bertindak aneh-aneh yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.

Manager harus sedini mungkin mengatasinya dengan pendekatan penjiwaan dan keimanan atau membawanya berobat kepada psikolog. Hal inilah yang menutut agar setiap pemimpin memiliki penlihatan social (social perception), kemampuan berpikir abstrak (ability inabstract thinking), dan keseimbangan emosional (emotional stability).

 

 

Penerapan Sistem Informasi pada Perbankan Syariah

July 9, 2008

 

Maraknya perbankan syariah di negeri ini seolah memunculkan image atau opini bahwa negeri ini sudah berkembang. Padahal, keberadaan perbankan syariah di negeri ini hanya merupakan warna dan dinamika perbankan secara keseluruhan baik itu perbankan konvensional maupun perbankan syariah.

Warna dan dinamika keberadaan perbankan di Indonesia apabila dibandingkan negeri lain amatlah tertinggal, utamanya dari sudut pandang Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan penggunaan Informasi Teknologi (IT). Permasalahan itu semestinya menjadi focus pengelola perbankan di negeri ini, tanpa kecuali.

Juga hungan pengelola perbankan dengan nasabah, sudah waktunya dikelola secara professional. Sarana dan prasarana yang berorientasi pada hubungan timbale balik antar nasabah dan pengelola perbankan syariah mesti diciptakan inovasi baru yang memudahkan nasabah untuk mengakses langsung ke bank bersangkutan. Sehingga pada akhirnya bermuara kepada pertumbuhan dan perkembangan perbankan semakin professional.

Jadi!, kendala yang kerap kali dan serta merta menempel dan bahkan menjadi opini bahwa pelayanan perbankan syariah amat kurang memuaskan sehinnga daya tarik perbankan semakin menurun. Hak ini hanya dapat di ubah atau diprbaiki dengan penggunaan Informasi Teknologi (IT).

Sejarah Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

July 9, 2008

 

Perbankan syariah adalah lembaga investasi dan perbankan yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sumber dana yang didapatkan harus sesuai dengan syara’, alokasi investasi yang dilakukakan bertujuan untuk menumbuhkan ekonomi dan sosial masyarakat serta melakukan jasa-jasa perbankan yang sesuai dengan nilai-nilai syariah. Dari definisi tersebut jelas bahwa perbankan syariah tidak hanya semata-mata mencari keuntungan dalam operasionalnya akan tetapi terdapat nilai-nilai sosial kemasyarakatan dan spititualisme yang ingin dicapai.

Kelahiran Bank Islam di Indonsia relative terlambat dibandingkan dengan Negara-negara lain. Hal tersebut merupakan ironi dalam pemerintahan RI. KH Hasan Basri, yang pada waktu itu menjabat sebagai ketua MUI memberikan jawaban bahwa kondisi keterlambatan pendirian bank Islam di Indonesia dikarenakan political-will belum mendukung.

Pada tahun 1999 , perbankan syari’ah berkembang luas dan menjadi tren pada tahun 2004, hal ini terlihat pada Bank Muamalat indonesia dimana Konsep Ekonomi Syari’ah diyakini menjadi “Sistem imun” yang efektif sehingga tidak terpegaruh oleh gejolak krisis ekonomi pada waktu itu,yang ternyata juga menarik minat pihak perbankan konvensional untuk mendirikan bank yang juga memakai sistem Syari’ah.

Dengan perkembangan yang cukup signifikan ini, perbankan syari’ah diharapkan dapat menjadi salah satu pancang perekonomian Indonesia yang kuat dan menjadi solusi terbaik terhadap permasalahan-permasalahan perekonomian yang ada di masyarakat saat ini, terutama bagi mereka yang memiliki Usaha Kecil dan Menengah, yang sangat membutuhkan pijaman dana dari bank untuk usahanya.

Di balik perkembangan perbankan syariah yang diinilai cukup baik, ternyata perbankan syariah masih memiliki beberapa permasalahan. Permasalahan datang dari internal perbankan syariah itu sendiri. Perkembangan perbankan syariah yang baik tidak diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik dari karyawan perbankan syariah terhadap perbankan syariah dan ekonomi Islam. Sehingga adanya anggapan di masyarakat, kinerja bank syariah tidak sebaik kinerja bank konvensional. Hal ini bisa berakibat kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah.

Masyarakat masih memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang bank syariah. Seperti, masyarakat masih beranggapan sistem bunga pada bank konvensional dan sistem bagi hasil pada bank syariah merupakan dua sistem yang sama, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan jasa perbankan konvensional yang dinilai telah berpengalaman dalam menjalankan usaha perbankan walalupun sebenarnya perbankan konvensional memberikan sesuatu yang negatif bagi nasabahnya, baik dari segi dunia maupun akhirat.

Undang-Undang Perbankan Syariah yang telah disahkan oleh DPR baru-baru ini membawa angin pencerahan bagi system perbankan syariah, sehingga penerapan konsep ekonomi syariah bagi bank syariah dapat menjadi konsep yang jelas dalam membangun system ekonomi kerakyatan yang berorientasi syariah dan social.

agar bank Syariah ini mampu berkembang dengan baik dan dapat bersaing secara global, maka perlu adanya penerapan prinsip prinsip Good Corporate Governance. Secara umum prinsip prinsip tersebut antara lain fairness (berkeadilan), transparency (transparan), accountability (Akuntabilitas), dan responsibility (pertanggungjawaban).Dari pendadaran diatas maka dapat disimpulkan bahwa meskipun perkembangan perbankan menunjukkan peningkatan yang cukup pesat diharapkan ada pembenahan dalam segi manajemen bank, perbaikan pelayanan public (nasabah) serta penerapan konsep ekonomi syariah yang ketiganya terintegrasi dengan baik.

 

Hello world!

June 16, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!